• Jelajahi

    Copyright © Lensa Global
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan atas

    Latest Post

    Kampanye Bebas TBC 2030, Bupati Sidoarjo, Subandi: Ajak Masyarakat Sidoarjo Untuk Galakkan Bebas TBC Dengan Pemeriksaan Gratis Dalam Mendeteksi dan Mengobati TBC

    Minggu, 09 November 2025, November 09, 2025 WIB Last Updated 2025-11-12T04:28:54Z

     

    Bupati Sidoarjo, H. Subandi Membuka Resmi Kampanye Penuntasan Tuberkulosis (TBC) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo di Alun-alun Sidoarjo, Minggu (9/11/2025).(foto:hms) 


    SIDOARJO||LENSA-GLOBAL.com - TBC adalah singkatan dari Tuberkulosis, yaitu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini terutama menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyebar ke organ lain seperti otak, tulang belakang, ginjal, dan kelenjar getah bening. Gejala umum meliputi batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, demam, keringat malam, penurunan berat badan, dan kelelahan


    Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dan penularan TBC menyebar melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara, melepaskan droplet yang mengandung bakteri serta resiko penularan lebih mudah terjadi di tempat dengan kepadatan penduduk tinggi dan ventilasi yang buruk. 


    Tingkat kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih memprihatinkan. Indonesia menjadi negara penyumbang kasus TBC terbesar kedua di dunia setelah India, angka kasus di Indonesia meningkat sejak pandemi civid-19. 


    Oleh karena itu, Bupati Sidoarjo, H. Subandi, mengajak masyarakat khususnya di Sidoarjo untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan, memeriksakan diri ke dokter bila mengalami gejala serta menerapkan pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi dan olahraga yang cukup. 


    Terkait penyakit tuberkulosis (TBC), Bupati Sidoarjo, H. Subandi membuka secara resmi Kampanye Penuntasan Tuberkulosis (TBC) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo di Alun-alun Sidoarjo, Minggu (9/11/2025).


    Acara yang dihadiri oleh seluruh Kepala Puskesmas se-Kabupaten Sidoarjo ini bertujuan menggalakkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi tuberkulosis (TBC), sejalan dengan target Sidoarjo Bebas TBC pada tahun 2030.


    Mengusung tema "Temukan Obati Sampai Sembuh" (TOSS), kampanye ini difokuskan untuk mengajak masyarakat agar lebih proaktif dalam mendeteksi dan mengobati tuberkulosis (TBC).


    Acara ini dibuka untuk masyarakat umum dan menyediakan berbagai layanan kesehatan gratis. Warga yang hadir antusias memanfaatkan fasilitas screening gratis tuberkulosis (TBC) dan pengecekan gula darah. Selain itu, kegiatan juga dimeriahkan dengan senam bersama yang bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dalam mencegah penyakit.


    Dalam sambutannya, Bupati Sidoarjo H. Subandi menegaskan bahwa tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan serius yang dihadapi bangsa Indonesia, tidak terkecuali di Sidoarjo. Ia mendorong masyarakat untuk tidak lagi takut atau malu melakukan pemeriksaan tuberkulosis (TBC) dan meyakinkan bahwa tuberkulosis (TBC) bisa disembuhkan asalkan pasien disiplin menjalani pengobatan yang teratur.


    "Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan serius bagi bangsa kita. Oleh karena itu, masyarakat Sidoarjo jangan takut untuk melakukan pemeriksaan tuberkulosis (TBC)," ujar H. Subandi yang mantan Kepala Desa Sedati, Pabean Sidoarjo ini. 


    Bupati H. Subandi menilai kampanye ini merupakan langkah awal yang krusial agar masyarakat semakin paham dan peduli terhadap bahaya serta penularan tuberkulosis (TBC).


    "Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan tuberkulosis (TBC) secara gratis. Masyarakat hanya perlu mendatangi puskesmas atau rumah sakit terdekat," jelasnya.


    Lebih lanjut, H. Subandi menekankan bahwa gerakan ini harus berkelanjutan dan bukan sekadar seremonial.


    "Acara ini tidak hanya seremonial saja, tetapi ini adalah awal gerakan nyata. Gerakan untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan kita. Marilah kita satukan langkah dan tekad untuk Sidoarjo bebas tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030," seru Bupati.


    Dalam kesempatan yang sama, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, melaporkan data terbaru mengenai progres penanganan TBC di Sidoarjo. Ia memaparkan bahwa capaian penanganan TB pada Triwulan 3 tahun 2025 sudah mencapai 93%.


    "Capaian penemuan kasus TBC di Sidoarjo saat ini adalah 4.669 kasus (80%) dan angka keberhasilan (pengobatan) mencapai 84%. Serta investigasi kontak telah mencapai 57% dan telah diberi pengobatan TBC 33%," rinci Lakhsmie.


    Masih menurut Lakhsmie, perihal penyakit tuberkulosis (TBC) tanpa gejala (asimtomatik) juga bisa mencapai lebih dari setengah kasus tuberkulosis (TBC) bergejala yang ditemukan. Ia meminta pemerintah juga memberi perhatian khusus untuk tuberkulosis (TBC) tanpa gejala, tambahnya. 


    Lebih lanjut, langkah penting untuk mendeteksi penularan tuberkulosis (TBC) terutama yang tanpa gejala. Tuberkulosis (TBC) tanpa gejala disebutnya dapat diobati sama dengan tuberkulosis (TBC) bergejala. Untuk mempercepat penuntasan tuberkulosis (TBC) melalui penguatan layanan kesehatan. Selain itu stigma terhadap penderita tuberkulosis (TBC) harus dihapuskan, urainya. 


    Ditambahkan pula, Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada tanggal 12 November 2025 merupakan momen bagus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini tuberkulosis (TBC) dan mempermudah akses skrining kesehatan, imbuhnya. 


    Tujuannya agar masyarakat dapat mendeteksi potensi tuberkulosis (TBC) sedini mungkin sebagai upaya pencegahan dan pengendalian tuberkulosis (TBC) maupun penyakit lain, ujar Lakhsmie sapaan akrabnya. 


    Melalui sistem screening tersebut, peserta akan menjawab sejumlah pertanyaan seputar gejala dan faktor risiko. Hasilnya akan menunjukkan apakah seseorang berisiko tinggi menderita tuberkulosis (TBC) atau tidak. "Jika hasil menunjukkan risiko tinggi, warga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat seperti Puskesmas, rumah sakit, atau dokter praktik swasta,” jelasnya.


    Lakhsmie juga menegaskan, pasien yang dinyatakan positif tuberkulosis (TBC) wajib menjalani pengobatan selama enam bulan secara teratur hingga dinyatakan sembuh. "Kalau putus ditengah jalan, pengobatan harus diulang dari awal", tegasnya. 


    Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi rumah yang sehat dan memiliki ventilasi cukup, agar sinar matahari dapat masuk dan membantu membunuh bakteri tuberkulosis (TBC) di udara. 


    Sebagai langkah pencegahan tambahan, Ratna menganjurkan agar kontak erat pasien tuberkulosis (TBC) menjalani Terapi Pencegahan TBC (TPT) guna memutus rantai penularan.


    "Kalau kontak erat tidak minum TPT, resiko tertular akan semakin besar", tambahnya. 


    Lakhsmie juga menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap gejala tuberkulosis (TBC) seperti batuk berkepanjangan, demam malam hari dan penurunan berat badan tanpa sebab jelas. 


    "Jika mengalami gejala tersebut,  segera periksa ke puskesmas untuk dilakukan tes dahak guna memastikan apakah positif tuberkulosis (TBC) atau tidak", pungkasnya.(JD/adv) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini, baru