Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Surabaya adakan edukasi dan pelatihan hadapi Bencana.
SURABAYA||LENSA-GLOBAL.com — Keberadaan dua patahan aktif yang merupakan bagian dari sistem Sesar Kendeng menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa bumi.
Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkot Surabaya memperluas edukasi dan pelatihan mitigasi bencana, mulai dari anak usia dini hingga masyarakat umum.
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto, mengatakan edukasi dilakukan secara berjenjang karena kesiapsiagaan masyarakat tidak bisa dibangun hanya ketika bencana terjadi.
"Upaya mitigasi ini kita lakukan mulai dari usia dini, dari tingkat PAUD hampir setiap hari kita latih, lalu ke sekolah-sekolah dari SD, SMP, hingga SMA," ujar Irvan, Rabu (16/9/2026).
Menurut Irvan, materi pelatihan tidak hanya berupa pengetahuan mengenai gempa, tetapi juga mengajarkan tindakan yang harus dilakukan ketika guncangan terjadi.
Mulai dari menentukan titik kumpul, menyelamatkan diri, hingga membantu anggota keluarga menjadi bagian dari materi mitigasi yang diberikan kepada masyarakat.
Jangan Panik, Terapkan Hold and Cover
Irvan mengingatkan masyarakat agar tidak langsung berlari keluar secara sembarangan ketika terjadi gempa.
Langkah awal yang ditekankan adalah melindungi kepala dan leher serta mencari tempat perlindungan yang relatif aman.
"Yang utama adalah hold and cover, mencari benda untuk menutupi kepala dan leher, berlindung di bawah meja, atau di area triangle of life (segitiga kehidupan)," jelasnya.
Edukasi tersebut tidak hanya menyasar lingkungan sekolah. BPBD juga melakukan penyisiran ke berbagai fasilitas dan kelompok masyarakat.
"Selain ke sekolah, penyisiran edukasi mitigasi juga terus kami jalankan setiap hari ke pesantren, rumah sakit, gedung bertingkat, hingga ke masyarakat melalui Kampung Pancasila," tambah Irvan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan bencana di tengah kondisi geografis Surabaya yang memiliki keterkaitan dengan sistem patahan aktif di kawasan Jawa Timur.
Dua Patahan Aktif Jadi Perhatian
Pakar Geologi, Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si, menjelaskan hasil survei terkait keberadaan dua patahan aktif dari sistem Sesar Kendeng yang melintasi wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Kedua struktur tersebut dikenal sebagai Patahan Surabaya dan Patahan Waru.
Amien menjelaskan, keduanya memiliki karakteristik patahan naik atau thrust fault. Aktivitas geologi tersebut berkaitan dengan dorongan dari bawah permukaan bumi yang secara perlahan mengangkat lapisan tanah.
"Patahan Surabaya menyebabkan munculnya perbukitan yang memanjang dari kawasan Wonokitri, Mayjen Sungkono, hingga ke Cerme. Sementara itu, Patahan Waru mendorong ke atas dan membentuk gundukan bukit dari wilayah Karangpilang, Nganjuk, hingga terus memanjang jauh ke barat," jelas Amien.
Berdasarkan survei yang disampaikan tersebut, Patahan Surabaya disebut mengalami pergerakan sekitar 4 sentimeter per tahun, sedangkan Patahan Waru sekitar 3 sentimeter per tahun.
Aktivitas tersebut juga dikaitkan dengan kemunculan gempa-gempa mikro dengan magnitudo sekitar 1 hingga 3. Gempa dengan skala tersebut umumnya kecil dan tidak selalu dirasakan masyarakat.
Namun, aktivitas gempa mikro dan pergerakan patahan menjadi salah satu alasan pentingnya pemantauan kondisi sesar secara berkelanjutan.
Seismograf Akan Dipasang
Untuk memperkuat sistem pemantauan, sejumlah instrumen seismograf direncanakan dipasang di sejumlah titik di sekitar patahan dan wilayah Kota Surabaya.
Pemantauan menggunakan instrumen tersebut diharapkan dapat menghasilkan data mengenai aktivitas kegempaan dan pergerakan sesar secara lebih berkelanjutan.
"Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan," tutupnya.
Bagi Pemkot Surabaya, mitigasi menjadi bagian penting karena gempa bumi tidak dapat dipastikan kapan akan terjadi hanya berdasarkan aktivitas patahan yang terpantau.
Karena itu, edukasi sejak dini, latihan penyelamatan diri, pemetaan titik kumpul, kesiapan fasilitas publik, serta pemantauan aktivitas sesar menjadi langkah yang diarahkan untuk mengurangi risiko apabila terjadi gempa.
Kesiapsiagaan menjadi kunci: bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan memastikan warga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika guncangan benar-benar terjadi.(ham)








