![]() |
| Acara Launching buku antologi puisi berjudul Kukenang Sidoaro di Cafe Limasan, Candi Kabupaten Sidoarjo.(ft:red) |
SIDOARJO||LENSA-GLOBAL.com -Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) meluncurkan buku antologi puisi berjudul ‘Kukenang Sidoarjo’ di Kafe Limasan, di Desa Sidodadi Kecamatan Candi, Sidoarjo, Sabtu (7/2/2026). Buku antologi puisi ke-14 KGPS ini menjadi kado bagi Hari Jadi Sidoarjo (Harjasda) ke-167 tahun 2026.
Buku setebal 198 halaman tersebut memuat karya puisi para penulis yang tergabung dalam KPGS. Selain itu juga berisi karya puisi penulis siswa dan penulis tamu. Total ada 37 penulis. “Buku antologi ke-14 KGPS ini membahas lika-liku segala sesuatu yang ada di Sidoarjo,” cetus Sekretaris KGPS, Suhartatik.
Ia menyebut, Sidoarjo kaya berbagai macam budaya, seni, ragam perilaku yang unik. Ia menyebut Sidoarjo memiliki budaya yang luar biasa, tempat wisata yang banyak. “Gang-gang kecil di Sidoarjo ini mungkin menjadi sesuatu yang bersejarah,” tandasnya.
Suhartatik lalu mencontohkan keunikan Jalan Thamrin di Sidoarjo. Sepintas Jalan Thamrin tampak biasa, tapi sebenarnya jalan yang mempunyai makna luar biasa. Sebab di jalan Thamrin itu segala pertemuan ada. Di sisi selatan jalan tersebut, ada geliat ekonomi karena ada pertokoan.
Sedangkan di sisi utara jalan tersebut, berdiri Alun-alun Sidoarjo, ada monumen Jayandaru. “Nah berbagai macam hal itu kita rangkai menjadi kisah dan cerita dalam sebuah rangkaian puisi,” beber Suhartatik yang juga salah satu penulis dalam buku ‘Kukenang Sidoarjo’ tersebut.
Ia menambahkan, buku ‘Kukenang Sidoarjo’ ini tidak hanya sekedar coretan biasa, tetapi merupakan jejak yang ingin ditorehkan para penulisnya, sebagai sesuatu yang bisa dikenang kembali untuk beberapa tahun kemudian.
Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) Ribut Wijoto mengatakan, setelah buku ke-14 KGPS ini, perlu saatnya meningkatkan kualitas karya puisi. “Bahwa sebenarnya puisi itu ada ilmunya, tidak asal menulis. Puisi itu meski pendek, tapi setara dengan novel yang tebal,” cetusnya.
Ribut berharap KGPS bisa menggelar pelatihan kelas menulis. Ia menyebut Dekesda siap bekerjasama dengan KGPS. “Mungkin bisa dua atau tiga kali pertemuan untuk penyampaian materi, kemudian praktik menulis. Ini juga untuk ekosistem sastra di Sidoarjo,” bebernya.
Ribut mengapresiasi KGPS yang setia untuk terus menulis merupakan hal yang sangat luar biasa dan tidak ternilai harganya. Dan buku antologi puisi ke-14 ini menjadi salah satu buktinya. “Selamat buat KGPS,” pungkas Ribut Wijoto.(nd/*)







