SIDOARJO||LENSA-GLOBAL.com - Pemerintah Kabupaten Sidoarjo saat ini mengutamakan keselamatan peserta didik, namun dengan menyusul ambruknya plafon SDN Sidokepung 1, Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo akibat cuaca ekstrem adanya guyuran hujan deras disertai angin kencang, didukung kayu bangunan sudah lapuk di SDN Sidokepung 1 Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo pada hari Selasa pagi, 14 April 2026 menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Guru-guru bingung karena ambrolnya plafon pada saat sekolah sudah aktif dan sekolah juga kekurangan kelas.
Insiden ini memicu krisis ruang belajar, memaksa pihak sekolah berpacu mencari solusi cepat ditengah keterbatasan fasilitas untuk menampung ratusan siswa.
Dengan kejadian tersebut, Bupati Sidoarjo, H. Subandi segera mendatangi untuk meninjau lokasi SDN Sidokepung Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo pada hari Sabtu (18/4/2026). Langkah ini diambil, untuk merespon ambruknya plafon ruang kelas akibat hujan deras beberapa waktu lalu, sekaligus mencari solusi atas minimnya ruang kelas di sekolah tersebut. Instruksi cepat perbaikan menggunakan dana Belanja Tak Terduga (BTT), ucapnya.
Saat didatangi Bupati Subandi, bekas-bekas plafon yang ambrol di SDN Sidokepung 1 Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo masih terlihat. Asbes pecah berkeping-keping, sisa pecahannya juga masih menggantung di langit-langit. Kayu-kayu penyangga plafon asbes terlihat hitam dan lapuk.
![]() |
| Kondisi plafon yang ambrol di ruang kelas SDN Sidokepung 1, Kec. Buduran, Kab. Sidoarjo |
Kehadiran Bupati Sidoarjo, H. Subandi didampingi oleh Kepala Dinas Pendidik dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sidoarjo, Dr. Tirto Adi dan Kepala Sekolah SDN Sidokepung 1 Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo, Sri Wahyuni, MPd yang langsung menuju ruang kelas SDN Sidokepung 1 tersebut yang ambrol.
Dalam sidaknya, Abah Bandi-sapaan akrabnya- menegaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo akan mengambil langkah cepat (jangka pendek) dan rencana strategis (jangka panjang).
"Hasil peninjauan menunjukkan kondisi ruang belajar memang sudah tidak memadai, baik fasilitas maupun bangunan. Atapnya rusak berat," ujar Subandi di lokasi.
![]() |
Subandi menawarkan dua skema perbaikan. Untuk penanganan kilat agar siswa bisa segera belajar dengan nyaman, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melirik penggunaan dana Belanja Tak Terduga (BTT) untuk pembangunan perbaikan yang darurat. Namun untuk rencana pembangunan gedung baru dua lantai akan dikeluarkan menyusul guna menjamin keamanan siswa.
"Jika ingin solusi cepat, sementara bisa pakai dana Belanja Tak Terduga (BTT) untuk pembenahan atap dan plafon. Tapi untuk jangka panjang, saya sarankan perencanaan gedung dua lantai mulai akhir 2026, agar 2027 bisa terealisasi," tegasnya.
Bupati Subandi mengatakan kalau Kepala SDN Sidokepung 1 Sri Wahyuni menyampaikan harapan agar ada penambahan ruang kelas bagi murid-muridnya. Kelas dibangun dua lantai. Karena SDN Sidokepung 1 masih kekurangan ruang kelas.
Bupati Subandi pun menyampaikan bahwa sementara yang perlu dilakukan adalah memperbaiki plafon dulu. Anggarannya pakai dana belanja tidak terduga (BTT). Penanganan harus dilakukan segera. Kita pastikan penanganan darurat segera dilakukan.
”Kalau ingin cepat sementara kita pakai Belanja Tak Terduga (BTT), tapi untuk memperbaiki plafon dulu. Memperbaiki atap yang rusak itu dulu untuk pembenahan,” kata Bupati Subandi.
Ia juga menambahkan bahwa ambruknya atap ruang kelas 5 dikarenakan kondisi kayu plafon yang sudah keropos/lapuk menjadi penyebab utama, diperparah dengan curah hujan tinggi. Namun kejadian ambruknya plafon SDN Sidokepung 1 Buduran Kabupaten Sidoarjo tidak ada korban jiwa karena evakuasinya cepat. Peristiwa ambruknya plafon, tepat sebelum kegiatan belajar dimulai. Saat ini, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke ruang perpustakaan, imbuhnya.
Setidaknya dengan satu kelas yang mengalami kerusakan, menyebabkan kondisi tersebut krisis ruang belajar. Pihak sekolah berupaya membagi jadwal kelas agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Subandi menginstrusikan perbaikan cepat (darurat) dan direncanakan kedepannya perbaikan jangka panjang berupa pembangunan gedung dua lantai, paparnya.
Menurutnya, prioritas utama adalah membangun kembali plafon yang ambrol dan mengganti konstruksi kayu yang telah keropos dengan material yang lebih kuat dan tahan lama agar kegiatan belajar mengajar segera bisa kembali normal, ucapnya.
Harapan untuk membangun kelas menjadi dua lantai bisa tetap dilaksanakan. Pembangunan gedung baru dua lantai sebagai solusi jangka panjang. Itu perlu perencanaan dulu pada tahun 2026 ini. Pembangunan dilaksanakan pada tahun 2027. Penggunaan dana Belanja Tak Terduga (BTT) tidak bisa dilakukan begitu saja karena ada regulasinya. Ada syarat-syarat yang harus diikuti. Kecuali situasinya yang benar-benar darurat.
Untuk SDN Sidokepung 1, lanjut Bupati Subandi, butuh perencanaan untuk membangun kelas menjadi dua lantai. Perencanaan dilakukan pada akhir tahun 2026, pembangunannya pada awal tahun 2027.
”Insya Allah bulan 2 (Februari) atau 3 (Maret) 2027 bisa dilakukan,” jelas Bupati Subandi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Tirto Adi menuturkan keterbatasan ruang kelas di SDN 1 Sidokepung menjadi perhatian serius pemerintah daerah meski terdapat penyesuaian anggaran pada tahun berjalan.
Ia menyebut pada 2026 belum terdapat alokasi khusus untuk sekolah tersebut akibat efisiensi anggaran, namun pihaknya tetap mengupayakan solusi sesuai arahan bupati.
Saat ini, kata dia, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tengah menggarap 54 titik perbaikan infrastruktur pendidikan dengan total anggaran sekitar Rp47 miliar dengan sebagian proyek telah berjalan dan lainnya masih dalam tahap tender.
SDN 1 Sidokepung saat ini menampung 340 siswa yang terbagi dalam 13 rombongan belajar (rombel). Namun, sekolah hanya memiliki 11 ruang kelas. Pihak sekolah berharap usulan penambahan dua ruang kelas baru dengan konsep gedung bertingkat bisa segera dikabulkan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.(ADV/nd)









