• Jelajahi

    Copyright © Lensa Global
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan atas

    Latest Post

    Wagub Emil Launching HAJI C-AIRRe 2026, Sebut Tonggak Transformasi Digital Kesehatan Jawa Timur Menuju Rumah Sakit Berkelas Dunia

    Kamis, 16 Juli 2026, Juli 16, 2026 WIB Last Updated 2026-07-16T12:36:25Z

     


    SURABAYA||LENSA-GLOBAL.com – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak secara resmi meluncurkan Ekosistem Teknologi Digital Kesehatan dan Pelayanan Non-Tunai HAJI C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence and Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare) 2026 di Ruang Pertemuan Serambi Mekkah RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, Rabu (15/7). 


    Peluncuran tersebut menjadi tonggak penting transformasi digital sektor kesehatan di Jawa Timur menuju rumah sakit berkelas dunia yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan, riset, pendidikan, inovasi, serta teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan robotika.


    Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Emil menegaskan bahwa HAJI C-AIRRe bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun sebuah ekosistem inovasi kesehatan yang mempertemukan rumah sakit, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga riset, industri kesehatan, hingga sektor keuangan dalam satu kolaborasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat.


    "HAJI C-AIRRe bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi menjadi langkah nyata membangun ekosistem pelayanan kesehatan, riset, inovasi, dan digitalisasi yang terintegrasi menuju rumah sakit berstandar internasional," kata Emil.


    Menurut Emil, transformasi digital kesehatan merupakan implementasi Program Jatim Sehat dalam Nawa Bhakti Satya yang diperkuat melalui RPJMD Provinsi Jawa Timur 2025-2029. Program tersebut diarahkan untuk menghadirkan layanan kesehatan yang semakin merata, berkualitas, inklusif, meningkatkan usia harapan hidup, menurunkan prevalensi stunting menjadi 12 persen pada 2029, sekaligus mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) 100 persen di seluruh kabupaten/kota.


    Ia menambahkan, peluncuran HAJI C-AIRRe juga menjadi bagian dari implementasi berkelanjutan Program Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) yang terus didorong Gubernur Khofifah sebagai strategi mempercepat transformasi tata kelola pemerintahan, termasuk digitalisasi pelayanan kesehatan dan sistem transaksi non-tunai di lingkungan rumah sakit pemerintah.


    "Transformasi digital kesehatan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan agar pelayanan publik semakin berkualitas dan mampu menjawab tantangan kesehatan di masa depan," ujarnya.


    Emil menjelaskan terdapat dua kata kunci utama yang harus menjadi roh pengembangan HAJI C-AIRRe ke depan, yakni utilisasi dan ekosistem.


    Menurutnya, seluruh inovasi yang dihasilkan harus benar-benar dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan sehari-hari sehingga mampu meningkatkan kualitas diagnosis dokter, mempercepat pelayanan, meningkatkan akurasi, sekaligus memberikan pengalaman pelayanan yang lebih baik bagi pasien.


    "Kata kuncinya adalah utilisasi. Apapun inovasi yang dihasilkan harus dimanfaatkan. Karena itu dibutuhkan dukungan seluruh insan civitas hospitalia, khususnya para dokter dan tenaga kesehatan, agar mampu memanfaatkan teknologi ini dalam meningkatkan kualitas diagnosis, pelayanan yang lebih cepat, lebih akurat, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi pasien," tegasnya.


    Di sisi lain, Emil menilai keberhasilan inovasi tidak cukup hanya menghasilkan teknologi, tetapi harus dibangun melalui ekosistem kolaborasi yang kuat antara rumah sakit, perguruan tinggi, dunia usaha, industri kesehatan, lembaga riset, hingga pemerintah.


    "Yang kedua adalah ekosistem. Setelah hari ini saya berharap akan lahir berbagai inovasi lainnya karena ekosistemnya sudah terbentuk. Kemitraan dengan kampus-kampus telah terbangun dan ini menjadi apresiasi atas optimisme serta kerja keras seluruh civitas akademika dan insan rumah sakit," katanya.


    Menurut Emil, ukuran keberhasilan sebuah inovasi bukanlah banyaknya produk yang dihasilkan, melainkan besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat.


    "Ibu Gubernur selalu memberikan apresiasi terhadap setiap inovasi. Tetapi yang lebih penting bukan berapa banyak inovasi yang dihasilkan, melainkan seberapa besar outcome yang diberikan. Ukurannya adalah semakin banyak senyum keluarga pasien karena mendapatkan pelayanan yang lebih baik," ujarnya.


    Karena itu, Emil berharap pemanfaatan HAJI C-AIRRe nantinya dapat diperluas secara bertahap di seluruh rumah sakit UOBK milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur sehingga tingkat utilisasi teknologi semakin tinggi dan dampaknya terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan semakin nyata.


    Ia juga menekankan pentingnya menyusun roadmap pengembangan bersama perguruan tinggi agar berbagai inovasi yang dihasilkan dapat distandardisasi, diintegrasikan ke dalam pedoman praktik pelayanan kesehatan, hingga pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh fasilitas kesehatan yang lebih luas.


    "Roadmap harus disusun bersama perguruan tinggi sehingga kita memiliki target yang jelas sampai teknologi ini benar-benar dapat diandalkan, distandardisasi, dan dimanfaatkan oleh lebih banyak fasilitas kesehatan," ujarnya.


    Lebih jauh, Emil berharap rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi inkubator lahirnya berbagai inovasi teknologi medis nasional.


    "Kalau kita berbicara tentang kedaulatan bangsa, selain kedaulatan pangan dan energi, kedaulatan teknologi medis juga sangat penting. Pengalaman pandemi Covid-19 mengajarkan kepada kita betapa strategisnya kemampuan bangsa dalam mengembangkan teknologi kesehatan sendiri," katanya.


    Untuk itu, ia mengapresiasi kolaborasi RSUD Haji Provinsi Jawa Timur bersama Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bank Indonesia, Bank Jatim, serta berbagai mitra strategis lainnya yang dinilai menjadi implementasi nyata model pentahelix dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan yang berkelanjutan.


    Dalam implementasinya, HAJI C-AIRRe dibangun di atas dua pilar utama, yakni Financial and Operational Excellence serta Clinical Excellence sebagai fondasi transformasi digital rumah sakit yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan medis sekaligus memperkuat efisiensi tata kelola organisasi.


    Menutup sambutannya, Emil mengajak seluruh pemangku kepentingan menjaga semangat "From Research to Impact, From AI to Humanity", sehingga setiap hasil penelitian benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


    "Semoga kolaborasi antara rumah sakit dan perguruan tinggi terus berkembang, rumah sakit menjadi inkubator inovasi teknologi medis, serta HAJI C-AIRRe mampu memperkuat kemandirian teknologi kesehatan nasional sekaligus menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin cepat, aman, berkualitas, dan berpusat pada pasien. Semoga Allah SWT meridai seluruh ikhtiar baik kita bersama," pungkasnya.(sm/*) 



    Komentar

    Tampilkan

    Terkini, baru