• Jelajahi

    Copyright © Lensa Global
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan atas

    Latest Post

    50 Kali Donor Darah, 425 Warga Surabaya Raih Penghargaan PMI

    Kamis, 17 September 2026, September 17, 2026 WIB Last Updated 2026-09-17T14:04:44Z

    Hari Palang Merah Indonesia (PMI) ke-81 di Gedung Sawunggaling Surabaya, Kamis (17/9/2026). Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama PMI Kota Surabaya memberikan penghargaan kepada 425 Donor Darah Sukarela (DDS) yang telah mendonorkan darah sebanyak 50 kali.


    SURABAYA||LENSA-GLOBAL.com – Lima puluh kali mendonorkan darah bukan sekadar catatan angka. Di baliknya ada konsistensi, waktu, dan kepedulian yang diberikan tanpa mengetahui siapa penerima manfaatnya.

    Semangat itulah yang mendapat apresiasi dalam peringatan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) ke-81 di Gedung Sawunggaling Surabaya, Kamis (17/9/2026). Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama PMI Kota Surabaya memberikan penghargaan kepada 425 Donor Darah Sukarela (DDS) yang telah mendonorkan darah sebanyak 50 kali.

    Dari jumlah tersebut, 397 pendonor merupakan laki-laki dan 28 perempuan. Kecamatan Gubeng menjadi wilayah dengan penerima penghargaan terbanyak, yakni 29 pendonor. Dua penerima lainnya tercatat memiliki golongan darah rhesus negatif.

    Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya sekaligus Ketua PMI Kota Surabaya, Lilik Arijanto, mengatakan penghargaan tersebut tidak semata-mata diberikan sebagai bentuk apresiasi. Menurutnya, capaian 50 kali donor menunjukkan adanya konsistensi dalam menjaga kepedulian terhadap sesama.

    “Lima puluh kali donor bukanlah sesuatu yang sederhana. Di balik setiap kali donor, ada waktu yang diluangkan, ada kepedulian yang dijaga, dan ada komitmen untuk membantu sesama,” kata Lilik.

    Ia mengatakan, donor darah merupakan salah satu bentuk kemanusiaan yang dapat dilakukan masyarakat tanpa harus menunggu memiliki kemampuan atau sumber daya besar. Darah yang disumbangkan dapat menjadi bagian penting dari proses penyelamatan pasien yang membutuhkan transfusi.

    “Kita menolong bukan karena mengenal siapa yang ditolong. Kita menolong karena kita tahu, suatu saat siapa pun dari kita bisa berada di posisi yang membutuhkan pertolongan,” ujarnya.

    Jangan Berhenti di Seremoni

    Lilik menyebut semangat tersebut sejalan dengan tema Hari PMI ke-81, “Peduli, Bergerak, Bersama”.

    Peduli berarti hadir ketika sesama membutuhkan. Bergerak berarti mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata. Sedangkan bersama menunjukkan bahwa urusan kemanusiaan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak.

    Karena itu, Lilik berharap donor darah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar agenda tahunan. Ia ingin kepedulian tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya masyarakat Surabaya.

    “Surabaya bukan hanya kota yang maju secara pembangunan, tetapi juga harus menjadi kota yang kuat rasa kemanusiaannya. Kota yang warganya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peduli ketika ada orang lain yang membutuhkan,” tuturnya.

    Menurut Lilik, kolaborasi pemerintah, PMI, relawan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pelayanan kemanusiaan.

    “Kepada 425 penerima penghargaan donor darah sukarela 50 kali, saya mengucapkan terima kasih. Jadikan penghargaan ini bukan sebagai akhir dari pengabdian, tetapi sebagai pengingat bahwa kebaikan yang kita lakukan telah memberikan arti bagi kehidupan orang lain,” katanya.

    PMI Layani Sekitar 12 Ribu Pendonor per Bulan

    Sementara itu, Wakil Ketua PMI Kota Surabaya, Taufik Rohman Hidayat, mengungkapkan tingginya animo masyarakat untuk mendonorkan darah.

    Dalam satu bulan, PMI Kota Surabaya rata-rata melayani sekitar 12.000 pendonor.

    Namun, tingginya animo tersebut tidak serta-merta membuat PMI mengejar jumlah pendonor sebanyak-banyaknya. Jumlah tersebut justru disesuaikan dengan kebutuhan darah rumah sakit di Surabaya.

    “Target kita setiap bulan sekitar 12.000 pendonor. Angka tersebut sudah disesuaikan dengan kebutuhan darah di Surabaya. Sebenarnya animo masyarakat untuk mendonorkan darah sangat tinggi, bahkan potensinya lebih dari 12.000 pendonor per bulan,” kata Taufik.

    Pengaturan ritme donor dilakukan agar stok darah tetap berada dalam kondisi seimbang. Sebab, darah yang terkumpul jauh melebihi kebutuhan berpotensi tidak seluruhnya digunakan.

    PMI juga mempertahankan jaringan pendonor untuk golongan darah tertentu yang relatif lebih terbatas ketersediaannya.

    Pendonor dalam jaringan tersebut tidak selalu diminta melakukan donor setiap saat. Mereka disiapkan untuk dihubungi ketika muncul kebutuhan mendesak.

    “Ketika sewaktu-waktu ada pasien atau rumah sakit yang membutuhkan golongan darah tertentu, kami bisa menghubungi mereka melalui sistem on call. Mereka siap membantu. Kami memang memiliki jaringan pendonor seperti itu,” ujarnya.

    Tak Hanya Mengurusi Donor Darah

    Peran PMI Kota Surabaya sepanjang 2026 tidak berhenti pada pelayanan donor dan distribusi darah.

    Berdasarkan laporan PMI, organisasi kemanusiaan tersebut bersama Pemkot Surabaya telah membantu menangani 1.896 korban kecelakaan kendaraan bermotor, 95 korban kebakaran, memberikan 240 bantuan medis, serta melakukan 102 evakuasi jenazah melalui unit reaksi cepat 112.

    PMI Surabaya juga terlibat dalam respons terhadap bencana di sejumlah daerah. Bantuan antara lain diberikan untuk pembangunan fasilitas MCK di Aceh serta penanganan bencana Gunung Semeru.

    “Kebutuhan darah di Surabaya relatif stabil sehingga pada beberapa kesempatan kami juga bisa memberikan dukungan untuk kebutuhan di wilayah lain, termasuk hingga ke luar Jawa, khususnya Indonesia timur,” ujar Taufik.

    Dalam insiden kecelakaan laut KM Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, PMI Kota Surabaya turut membuka posko Restoring Family Links (RFL) dan Psychological First Aid (PFA) bagi keluarga serta penyintas yang terdampak.

    Di sektor pembinaan relawan, PMI Kota Surabaya saat ini menaungi sekitar 1.500 anggota Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Mula, Madya, dan Wira.

    Selain itu, terdapat sekitar 300 relawan Korps Sukarela (KSR) serta 100 relawan Tenaga Sukarela (TSR) aktif dari berbagai bidang keahlian.

    Data tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan kemanusiaan di Surabaya tidak hanya bertumpu pada kegiatan donor darah. Di dalamnya terdapat jaringan pendonor, relawan, tenaga sukarela, hingga generasi muda yang dipersiapkan untuk terlibat dalam berbagai situasi kemanusiaan.

    Pada akhirnya, penghargaan kepada 425 pendonor tersebut menjadi penanda bahwa aksi kemanusiaan dapat dibangun dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten: datang, mendonorkan darah, dan kembali membantu ketika waktunya tiba.(ham)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini, baru