![]() |
Roadshow Kelas Parenting Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) di Balai RW 3 Kelurahan Kapas Madya Baru pada Kamis (3/9/2026).(ft:red) |
SURABAYA||LENSA GLOBAL.com – Persoalan akses pendidikan anak usia dini kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Surabaya. Dalam Roadshow Kelas Parenting Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) di Balai RW 3, Kelurahan Kapas Madya Baru, Kamis (3/9/2026), ditemukan masih ada anak usia 5–6 tahun yang belum mengenyam pendidikan prasekolah.
Temuan tersebut menjadi sorotan karena Pemkot Surabaya tengah mendorong pelaksanaan program Wajib Belajar 13 Tahun yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah sebelum anak memasuki Sekolah Dasar (SD). Sebelumnya, Pemkot Surabaya juga menyatakan menargetkan tidak ada anak usia PAUD yang tidak terlayani.
Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani, mengatakan pendidikan prasekolah bukan hanya soal kemampuan akademik. Anak perlu mendapatkan ruang untuk belajar bersosialisasi, berbagi, berkomunikasi dan mengenal kedisiplinan sebelum masuk jenjang SD.
Atas kondisi tersebut, Pemkot Surabaya menyatakan siap melakukan intervensi. Anak yang terkendala biaya akan diupayakan mendapatkan bantuan beasiswa. Sementara apabila persoalannya berkaitan dengan keterbatasan kapasitas lembaga PAUD, Pemkot akan mengkaji kemungkinan pembangunan atau penambahan fasilitas pendidikan baru di wilayah tersebut.
Langkah itu menjadi penting agar persoalan pendidikan tidak berhenti pada pendataan. Pemkot dituntut memastikan setiap anak benar-benar mendapatkan akses pendidikan, terutama di kawasan yang padat penduduk atau memiliki keterbatasan daya tampung PAUD.
Orang Tua Harus Jadi Tempat Curhat Anak
Dalam roadshow yang mengangkat tema “Anak Siap, Orang Tua Sigap: Pengasuhan Positif dan Persiapan 1 Tahun Prasekolah Dalam Wajib Belajar 13 Tahun”, Rini juga mengingatkan orang tua agar tidak hanya menjadi pengawas anak, tetapi sekaligus menjadi tempat aman untuk bercerita.
Menurutnya, karakter anak zaman sekarang semakin kritis. Karena itu, pola komunikasi antara orang tua dan anak tidak bisa lagi hanya mengandalkan perintah dan larangan.
“Anak sekarang kalau kita ngomong pasti menjawab, dan kita harus punya jawaban yang menurut mereka masuk akal. Untuk bisa menjadi teman yang baik dan tempat bercerita, kita harus bangun komunikasi dari awal, mulai dari balita,” kata Rini.
Ia menilai kesalahan orang tua dalam merespons cerita anak bisa berdampak panjang. Ketika anak merasa takut dimarahi atau dihakimi, mereka berpotensi memilih diam dan tidak lagi menceritakan persoalan yang sedang dihadapi.
“Saya tahu dan yakin, ketika saya salah bereaksi terhadap apa yang dia katakan, bisa dipastikan dia tidak akan cerita apa-apa lagi. Lebih bahaya ketika mereka takut cerita sama kita, kita enggak akan tahu dia lagi ada masalah sama siapa,” ujarnya.
Jangan Rusak Kepercayaan Diri Anak
Selain pendidikan prasekolah, pembentukan kepercayaan diri atau self-esteem anak menjadi bagian penting dalam kelas parenting tersebut.
Rini meminta orang tua memberikan apresiasi terhadap usaha anak dan tidak membanding-bandingkannya dengan anak lain. Menurutnya, penghargaan tidak harus diberikan dalam bentuk materi.
Pelukan, ciuman, kalimat positif, perhatian maupun memasakkan makanan kesukaan anak, menurut Rini, dapat menjadi bentuk apresiasi yang membangun rasa dihargai.
Orang tua juga diminta menghindari toxic positivity, yakni ucapan yang terlihat memberikan semangat tetapi justru mengabaikan rasa lelah, kecewa atau kesulitan yang sedang dialami anak.
“Hadiah atau apresiasi tidak perlu berupa barang, Bunda. Dengan ciuman, pelukan, kalimat positif, atau memasakkan masakan kesukaan anak, itu sudah menjadi kekuatan yang luar biasa. Anak tidak perlu diajari semuanya tentang hadiah, tetapi rasa dihargai itu yang kita bangun,” pungkasnya.
Roadshow PUSPAGA tersebut pada akhirnya bukan sekadar kegiatan parenting. Di balik edukasi kepada orang tua, masih terdapat pekerjaan rumah Pemkot Surabaya untuk memastikan tidak ada anak usia dini yang terlewat dari akses pendidikan, baik karena persoalan ekonomi maupun keterbatasan fasilitas.
Lensa Global mencatat, komitmen “tidak boleh ada anak tertinggal” harus dibuktikan dengan data lapangan, intervensi yang tepat, serta kepastian bahwa bantuan dan fasilitas pendidikan benar-benar sampai kepada anak yang membutuhkan.(ham)








