![]() |
SURABAYA||LENSA-GLOBAL.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan di Jawa Timur hingga November 2025 tetap terjaga dan menunjukkan kinerja yang solid dalam mendukung perekonomian daerah. Kondisi ini menjadi fondasi penting dalam menghadapi prospek perekonomian Jawa Timur sepanjang tahun 2026, Senin (12/1/2026).
Kinerja positif tersebut tercermin dari sektor perbankan, industri keuangan nonbank (IKNB), pasar modal, hingga penguatan literasi, inklusi keuangan, dan pelindungan konsumen yang terus diperkuat secara berkelanjutan. Inflasi Terkendali di Tengah Tekanan Musiman.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, inflasi Jawa Timur pada November 2025 tercatat sebesar 2,63 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan III 2025 sebesar 2,53 persen (yoy), namun tetap berada di sekitar sasaran inflasi nasional 2,5 persen ±1 persen.
Peningkatan inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas hortikultura akibat curah hujan tinggi serta komoditas peternakan seiring meningkatnya biaya input dan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, berbagai stimulus pemerintah seperti subsidi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk angkutan udara turut menahan laju inflasi.
Pada Desember 2025, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat sebesar 2,93 persen (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,25. Secara keseluruhan, inflasi tahunan Jawa Timur masih berada dalam kondisi terkendali meskipun terdapat tekanan musiman secara bulanan.
Ke depan, pengendalian inflasi akan terus difokuskan pada stabilisasi pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta penguatan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Jawa Timur melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.
Pasar Modal Jatim Tumbuh Signifikan
Kinerja pasar modal di Jawa Timur hingga November 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Jumlah investor terus meningkat, tercermin dari pertumbuhan Single Investor Identification (SID). SID saham tercatat sebanyak 1,1 juta, tumbuh 33,15 persen yoy, sementara SID reksa dana mencapai 2,09 juta, meningkat 25,29 persen yoy.
Aktivitas transaksi saham juga melonjak signifikan. Nilai transaksi beli mencapai Rp25,7 triliun, tumbuh 97,50 persen yoy, sedangkan transaksi jual tercatat Rp26,1 triliun, naik 118,83 persen yoy. Total transaksi saham mencapai Rp51,84 triliun, meningkat 107,70 persen yoy, mencerminkan peningkatan likuiditas dan pendalaman pasar keuangan di Jawa Timur.
Pada sektor pengelolaan investasi, penjualan reksa dana melonjak 249,28 persen yoy menjadi Rp5,83 triliun. Sementara itu, sektor Securities Crowdfunding (SCF) mencatat total penghimpunan dana sebesar Rp61 miliar dari 33 penerbit dan 7.802 pemodal.
![]() |
Perbankan Stabil dengan Likuiditas Kuat
Kinerja intermediasi perbankan Jawa Timur per November 2025 tetap solid. Kredit perbankan tumbuh 2,29 persen yoy menjadi Rp623,08 triliun, terutama didorong oleh pertumbuhan kredit investasi dan kredit konsumtif. Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 4,49 persen yoy menjadi Rp826,88 triliun.
Likuiditas perbankan berada pada level yang sangat memadai, dengan rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 160,98 persen dan AL/DPK sebesar 33,77 persen, jauh di atas ambang batas minimum. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terkendali, dengan NPL net sebesar 1,53 persen.
Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 31,02 persen, mencerminkan penguatan struktur permodalan perbankan di Jawa Timur.
Asuransi, Dana Pensiun, dan Penjaminan Tetap Tangguh
Di sektor asuransi, akumulasi pendapatan premi hingga November 2025 tercatat sebesar Rp12,31 triliun, tumbuh 1,58 persen yoy. Beban klaim asuransi jiwa dan asuransi umum mengalami penurunan signifikan, mencerminkan perbaikan kualitas portofolio dan penguatan manajemen risiko.
Industri dana pensiun juga menunjukkan kinerja stabil, dengan total aset mencapai Rp4,65 triliun, tumbuh 5,82 persen yoy. Sementara itu, sektor penjaminan mencatat peningkatan total aset sebesar 27,45 persen yoy menjadi Rp823 miliar, meski pendapatan penjaminan mengalami penyesuaian seiring sikap kehati-hatian terhadap risiko.
Pembiayaan, Fintech, dan Pergadaian
Sektor pembiayaan menunjukkan perlambatan moderat pada 2025 seiring meningkatnya kehati-hatian lembaga pembiayaan. Namun demikian, profil risiko tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 3,03 persen.
Di sektor fintech peer-to-peer lending, jumlah borrower meningkat signifikan menjadi 17 juta lebih, dengan outstanding pembiayaan mencapai Rp11,23 triliun. Meski pertumbuhan melambat, hal ini mencerminkan fase normalisasi setelah ekspansi tinggi.
Sementara itu, aset pergadaian swasta tumbuh pesat hingga 50,21 persen yoy, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan gadai sebagai alternatif pembiayaan mikro.
Pelindungan Konsumen dan Literasi Keuangan Diperkuat
Sepanjang tahun 2025, OJK Jawa Timur menerima 1.066 layanan konsumen melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK), dengan mayoritas terkait permasalahan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan restrukturisasi kredit.
OJK juga melayani 8.374 konsultasi langsung dan memproses 48.721 permintaan data SLIK. Upaya pelindungan konsumen diperkuat melalui kanal pengaduan daring, Indonesia Anti Scam Center (IASC), serta optimalisasi Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Sektor Jasa Keuangan (LAPS-SJK).
Dalam mendorong literasi dan inklusi keuangan, OJK Jawa Timur bersama TPAKD berhasil menyelenggarakan ribuan kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 1,4 juta peserta, termasuk melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dan Bulan Inklusi Keuangan 2025.
Optimisme Menyongsong 2026
Dengan stabilitas sektor jasa keuangan yang terjaga, likuiditas yang kuat, serta sinergi lintas pemangku kepentingan, OJK optimistis sektor keuangan Jawa Timur mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dalam menyongsong tahun 2026 dan Indonesia Emas 2045.(nd/*)








