• Jelajahi

    Copyright © Lensa Global
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan atas

    Latest Post

    10 Tahun Didampingi UPN Veteran Jatim, UPPKA Kenjeran Mulai Naik Kelas

    Kamis, 27 Agustus 2026, Agustus 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-28T03:55:04Z

    HKN ke-33, Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) Kenjeran Mulai Naik Kelas.(ft:red) 


    SURABAYA||LENSA-GLOBAL.com – Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Namun, kolaborasi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan UPN “Veteran” Jawa Timur membuktikan bahwa pendampingan yang konsisten dapat membuka jalan bagi keluarga untuk lebih mandiri secara ekonomi.

    Sebanyak 10 kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) Kecamatan Kenjeran memamerkan berbagai produk hasil pendampingan UPN “Veteran” Jawa Timur di Graha YKP Surabaya, Kamis (27/8/2026). Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional itu sekaligus menandai satu dekade kolaborasi dalam mendorong peningkatan pendapatan dan kemandirian keluarga.

    Gelar produk tersebut dihadiri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Bunda Generasi Berencana (Genre) Rini Indriyani, jajaran perangkat daerah Pemkot Surabaya, Prof. Dr. Dra. Ignatia Martha Hendrati, M.E., serta para dosen pendamping UPN “Veteran” Jawa Timur dari berbagai disiplin ilmu.

    Eri memberikan apresiasi terhadap konsistensi perguruan tinggi tersebut yang selama satu dekade tidak berhenti mendampingi kelompok UPPKA. Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan kampus harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

    “Saya menyampaikan terima kasih banyak kepada Prof Martha dan tim pendamping dari UPN karena sudah 10 tahun kita bergandengan tangan. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, tetapi tidak pernah berhenti menciptakan keluarga yang sejahtera di Kota Surabaya,” kata Eri.

    Bagi Eri, sinergi pemerintah dengan perguruan tinggi tidak boleh berhenti hanya karena program telah berjalan bertahun-tahun. Justru keberlanjutan pendampingan menjadi penting agar semakin banyak keluarga yang mampu memperkuat perekonomiannya.

    “Semoga sinergi ini tidak pernah berhenti, karena sinergi untuk kebaikan jangan pernah berhenti di muka bumi ini, khususnya di Kota Surabaya,” ujarnya.

    Sementara itu, Prof. Martha menilai perjalanan pendampingan selama 10 tahun telah memperlihatkan perubahan pada para pelaku UPPKA. Sejumlah peserta yang awalnya menjalankan usaha sederhana dengan modal terbatas mulai mampu menjadikan usaha tersebut sebagai sumber tambahan penghasilan keluarga.

    “Sepuluh tahun bukan perjalanan yang singkat. Selama itu kami bertemu dengan keluarga-keluarga hebat dan pelaku usaha yang tidak pernah berhenti belajar. Kami menyaksikan yang awalnya sederhana dan bermodal terbatas kemudian berkembang menjadi sumber penghasilan keluarga,” ujar Martha.

    Perubahan itu, menurut Martha, bukan hanya soal produk yang semakin berkembang. Hal yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya keberanian dan kepercayaan diri para pelaku usaha untuk memasarkan produknya.

    “Mereka yang sebelumnya kurang percaya diri mulai berani menawarkan produknya, mengikuti pameran, dan memperkenalkan usahanya kepada masyarakat,” katanya.

    Pada 2026, program pendampingan difokuskan di Kecamatan Kenjeran dengan melibatkan 10 kelompok UPPKA. Peserta tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai pembuatan produk, tetapi juga dibekali kemampuan mengelola usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

    Salah satu materi yang diberikan adalah manajemen ritel. Pembekalan tersebut diarahkan agar pelaku UPPKA memahami cara mengelola usaha secara lebih tertata, mulai dari pengelolaan produk hingga bagaimana meningkatkan peluang pemasaran.

    “Kami mengajarkan manajemen ritel supaya mereka bisa mengelola usahanya dengan baik dan usahanya bisa berkembang,” jelas Martha.

    Pendampingan juga menyentuh aspek kehidupan keluarga. Peserta memperoleh materi parenting, pengelolaan usaha, hingga strategi meningkatkan pendapatan keluarga. Dengan demikian, program UPPKA tidak hanya berorientasi pada menghasilkan produk, tetapi juga membangun kemampuan keluarga agar lebih mandiri.

    Para peserta bahkan mendapat kesempatan mengikuti pengalaman belajar selama satu hari di lingkungan UPN “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan motivasi peserta dalam mengembangkan usahanya.

    “Kami melakukan pendampingan kepada mereka mulai dari bagaimana memperoleh penghasilan, bagaimana usaha bisa membantu meningkatkan penghasilan keluarga, hingga bagaimana usaha itu terus berkembang,” ujar Martha.

    Martha berharap 10 kelompok UPPKA Kenjeran tidak berhenti sebagai penerima manfaat program. Mereka diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi di lingkungannya sekaligus menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga maupun masyarakat lainnya.

    “Kami berharap para peserta tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi penggerak perekonomian dan membagikan pengetahuan yang sudah diperoleh,” tegasnya.

    Gelar produk di Graha YKP menjadi ruang untuk melihat hasil proses pendampingan tersebut. Berbagai produk yang dipamerkan menjadi gambaran bahwa pembinaan tidak hanya diarahkan agar masyarakat mampu membuat produk, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola usaha secara lebih tertib dan berkelanjutan.

    Martha juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Surabaya dan seluruh pihak yang selama ini mendukung program UPPKA. Menurutnya, momentum satu dekade pendampingan harus menjadi pijakan untuk memperkuat usaha para peserta.

    “Jadikan momentum ini sebagai awal untuk melangkah semakin kuat. Mari membangun usaha yang tertib dan berkelanjutan,” katanya.

    Kolaborasi Pemkot Surabaya dan UPN “Veteran” Jawa Timur selama satu dekade tersebut diharapkan tidak berhenti pada seremoni maupun gelar produk. Tantangan berikutnya adalah memastikan kelompok UPPKA benar-benar mampu bertahan, memperluas pasar, meningkatkan pendapatan, dan melahirkan pelaku usaha baru di tengah masyarakat.

    Sebab, ukuran keberhasilan pendampingan bukan sekadar berapa banyak produk yang dipamerkan, melainkan seberapa jauh keluarga mampu berdiri lebih mandiri dan menjadikan usaha sebagai kekuatan ekonomi rumah tangga.(ham)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini, baru